Reverse Logistic di Logistik Ecommerce itu Nama Kerennya Return Handling

Ketika sebuah produk mengalir mundur dari konsumen kembali ke toko, gudang, atau pusat distribusi maka proses ini dinamakan reverse logistics. Proses ini merupakan salah satu tantangan fundamental operasional yang dihadapi perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam aktivitas e-commerce, atau sering disebut return handling. Hal yang mendasarinya adalah volume barang yang ada dalam aliran ini sangat besar dan biaya yang diperlukan dapat menjadi substansial. Paling tidak 3% sampai 50% dari semua barang yang dikirim mengarah kepada pengembalian dan ini diartikan terdapat volume tinggi mengarah terbalik dalam rantai pasokan.

Reverse Logistics tetap menjadi aspek penting dari logistik e-commerce dan semua set up logistik tidak akan sempurna tanpa perencanaan dan implementasi dari area ini. Sebuah proses reverse logistics yang efektif mempunyai keuntungan yang pasti dalam hal kepuasan pelanggan, namun memang tidak dipungkiri ada beberapa biaya tambahan yang terjadi saat reverse logistics berlangsung.

Produk yang dikembalikan diterima dan dikirim kembali ke pusat distribusi. Informasi yang relevan seperti deskripsi barang, kondisi barang, alasan pengembalian dan data customer disimpan. Dan seringkali terjadi ketidakakuratan dalam informasi yang diterima di dalam skenario reverse logistics dalam e-commerce.

Adapun yang perlu diperhatikan saat mengiyakan adanya fitur return handling di e-commerce Anda, beberapanya adalah sebagai berikut:

  1. Aturan pengembalian yang jelas. Misalnya pengembalian gratis maksimal 7 hari setelah barang diterima.
  2. Proses yang baik dari persiapan pengembalian. Misalnya dengan memberikan stiker pengembalian siap tempel sehingga customer tidak usah repot-repot menulis alamat pengembalian dan sebagainya.
  3. Proses dari penerimaan barang yang dikembalikan. Misalnya saat barang diterima di e-fulfillment center maka ada prosedur validasi barang yang dikembalikan yang dilakukan oleh petugas return handling.
  4. Proses pengiriman barang yang ditukar, menawarkan refundatau store credit. Opsi yang ditawarkan ketika customer ingin mengembalikan produk yang tidak sesuai harus ada, agar customer punya gambaran kira-kira apa yang dia dapat jika dia ingin mengembalikan barang.
  5. Cara sistematis untuk pengecekan dan mensortir barang yang dikembalikan. Proses pengembalian barang sebaiknya juga tersistem otomatis dan terintegrasi termasuk notifikasi otomatis yang diterima customer ketika akhirnya barang yang dikembalikan sudah diproses.
  6. Diadakan Asset Recovery Systemyang meliputi restocking, repackaging untuk dijual, pengembalikan ke vendor dan pembuangan atau scrapping. Ini penting agar barang dikembalikan tidak menjadi diam tidak diproses.

Meski seringkali rumit dan membutuhkan biaya, fitur return handling banyak membuahkan keuntungan bagi si penjual online. Yang paling besar adalah untuk meningkatkan kepuasan pelanggan.  Ketika customer merasa toko online memperhatikan barang-barang yang rusak dan mementingkan kebutuhan customer, maka customer akan cenderung kembali ke toko dan menjadi loyal.

Baca juga: Mengubah Tantangan Terberat di Bisnis Online menjadi Peluang Untung Berkali-kali Lipat

filed under: Uncategorized
Written by
Like Comment
0 Comments